DANA ABADI UMAT

Posted: Januari 22, 2018 in Uncategorized

Upaya Membantu Perekonomian Warga

Pada kesempatan ini, saya tidak akan membahas tentang Fisika maupun Pendidikan, melainkan masalah yang ada kaitananya dengan kepedulian social dan perekonomian rakyatkhususnya warga seRT.

Sudah menjadi tradisi warga negeri ini jika dalam sebuah lingkungan sering diadakan pertemuan rutin bulanan. Sebagai media atau sarana pertemuannya bias berbentuk pengajian maupun arisan. Jika sarana pertemuannya pengajian maka pertemuannya mungkin bias sepekan sekali, sedangkan jika arisan maka biasanya sebulan sekali. Tapi terkadang ada warga yang tidak ikut arisan dikarenakan tidak memiliki cukup uang untuk arisan.

Warga di lingkungan Rukun Tetangga (RT) pada umumnya memiliki tingkat perekonomian beragam, ada yang mampu ada pula yng kurang mampu, bahkan ada keluarga yang tadinya mampu tapi menjadi kurang mampu, atau sebaliknya. Ketika kita memiliki tetangga yang sedang mengalami kesulitan maka seyogyanyalah kita harus membantunya. Namun demikian tidak setiap warga bisa ikut membantunya. Padahal partisipasi dan kerja sama (gotong royong) membantu yang sedang mengalami kesulitan adalah kebiasaan positif yang sudah menjadi tradisi bangsa kita. Lalu bagaimana kita yang juga kurang mampu tetapi bias ikut membantu tetangga yang juga kurang mampu?

Solusinya adalah Dana Abadi Umat (DAU). DAU adalah dana yang dihimpun melalui pertemuan rutin warga. Setiap kali pertemuan maka diedarkan kotak amal yang bisa diisi secara sukarela oleh warga yang hadir. Sekali lagi, besarnya uang amal bebas sesuai kemampuan warga, yang merasa tidak bawa uang, ya tidak usah mengisi uang amal. Jadi murni sukarela. Uang tersebut dikumpulkan dari pertemuan ke pertemuan, setelah dipandang cukup, barulah mulai dipinjamkan ke warga yang membutuhkan. Proses peminjamannya juga sederhana hanya diperlukan kesepakatan berapa lama uang tersebut dipinjam/dikembalikan. Dalam proses pengembalian pinjaman harus tanpa bunga sehingga bebas riba. Tetapi jika si peminjam mengembalikan pinjaman lebih ya tidak apa-apa. Mungkin sebagai bentuk terima kasih karna telah dipinjami. Penggunaan dana pinjaman ditak dibatasi peruntukannya, bias buat pendidikan, usaha/bisnis, atau yang lainnya yang penting tidak bertentangan dengan undang-undang dan agama. Dengan demikian setiap warga memiliki partisipasi dalam menolong yang sedang kesusahan khususnya dalam perekonomian.

Sebagai contoh, DAU RT 004 RW 016, Taman Jatisari Permai, Jatisari, Jatiasih, Kota Bekasi. DAU didirikan sekitar 5 tahun lalu. Dalam sebuah arisan ide tersebut tercetus dan disepakati. Saat itu dana yang terkumpul sekitar Rp.200 000 (dua ratus ribu rupiah). Dana tersebut tidak langsung dipinjamkan melainkan dikumpulkan hingga beberapa kali arisan berikutnya, dan uang terkumpul agak banyak. Setelah uang terkumpul sekitar dua jutaan,mulailah dipinjamkan. Yang boleh meminjam uang tersebut hanyalah warga RT setempat. Penggunaan uang pinjaman tidak dibatasi peruntukannya. Intinya setiap warga yang sedang mengalami kesulitan keuangan diperbolehkan pinjam, apakah untuk bayar SPP, biaya rumah sakit, ataupun untuk modal usaha. Hingga saat ini dana terkumpul sudah sekitar 30 jutaan dan manfaatnya sudal lebih dari 100 juta. Sebuah prestasi yang luar biasa dalam bergotong ronyong mengatasi masalah warga.

Kuncinya, jangan pikirkan nanti si peminjam itu mengembalikan pinjaman atau tidak, si pemegang uang itu amanah atau tidak, akhirnya uang itu habis atau tidak, melainkan kita harus ikhlas, seikhlas kita berinfaq. Kita tidak pernah berprasangka buruk terhadap pengelola dana infaq. Seperti itulah sikap kita terhadap pengelola DAU warga, jadi IKHLAS. Jika setiap RT bisa memiliki DAU maka akan berimbas peningkatan perekonomian masyarakat Indonesia pada umumnya dan warga di lingkungan RT pada khususnya.

Iklan

PENYUSUNAN SOAL HOTS

Posted: Desember 19, 2017 in Pendidikan

Pengertian Soal HOTS

Soal-soal HOTS merupakan instrumen pengukuran yang digunakan untuk mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi, yaitu kemampuan berpikir yang tidak sekadar mengingat (recall), menyatakan kembali (restate), atau merujuk tanpa melakukan pengolahan (recite). Soal-soal HOTS pada konteks asesmen mengukur kemampuan: 1) transfer satu konsep ke konsep lainnya, 2) memproses dan menerapkan informasi, 3) mencari kaitan dari berbagai informasi yang berbeda-beda, 4) menggunakan informasi untuk menyelesaikan masalah, dan 5) menelaah ide dan informasi secara kritis. Meskipun demikian, soal-soal yang berbasis HOTS tidak berarti soal yang lebih sulit daripada soal recall.

Dilihat dari dimensi pengetahuan, umumnya soal HOTS mengukur dimensi metakognitif, tidak sekadar mengukur dimensi faktual, konseptual, atau prosedural saja.Dimensi metakognitif menggambarkan kemampuan menghubungkan beberapa konsep yang berbeda, menginterpretasikan, memecahkan masalah (problem solving), memilih strategi pemecahan masalah, menemukan (discovery) metode baru, berargumen (reasoning), dan mengambil keputusan yang tepat.

Dimensi proses berpikir dalam Taksonomi Bloom sebagaimana yang telah disempurnakan oleh Anderson & Krathwohl (2001), terdiri atas kemampuan: mengetahui (knowing-C1), memahami (understanding-C2), menerapkan (aplying-C3), menganalisis (analyzing-C4), mengevaluasi (evaluating-C5), dan mengkreasi (creating-C6). Soal-soal HOTS pada umumnya mengukur kemampuan pada ranah menganalisis (analyzing-C4), mengevaluasi (evaluating-C5), dan mengkreasi (creating-C6).Pada pemilihan kata kerja operasional (KKO) untuk merumuskan indikator soal HOTS, hendaknya tidak terjebak pada pengelompokkan KKO.Sebagai contoh kata kerja ‘menentukan’ pada Taksonomi Bloom ada pada ranah C2 dan C3. Dalam konteks penulisan soal-soal HOTS, kata kerja ‘menentukan’ bisa jadi ada pada ranah C5 (mengevaluasi) apabila untuk menentukan keputusan didahului dengan proses berpikir menganalisis informasi yang disajikan pada stimulus lalu peserta didik diminta menentukan keputusan yang terbaik. Bahkan kata kerja ‘menentukan’ bisa digolongkan C6 (mengkreasi) bila pertanyaan menuntut kemampuan menyusun strategi pemecahan masalah baru. Jadi, ranah kata kerja operasional (KKO) sangat dipengaruhi oleh proses berpikir apa yang diperlukan untuk menjawab pertanyaan yang diberikan.

Pada penyusunan soal-soal HOTS umumnya menggunakan stimulus.Stimulus merupakan dasar untuk membuat pertanyaan.Dalam konteks HOTS, stimulus yang disajikan hendaknya bersifat kontekstual dan menarik.Stimulus dapat bersumber dari isu-isu global seperti masalah teknologi informasi, sains, ekonomi, kesehatan, pendidikan, dan infrastruktur.
Stimulus juga dapat diangkat dari permasalahan-permasalahan yang ada di lingkungan sekitar satuan pendidikan seperti budaya, adat, kasus-kasus di daerah, atau berbagai keunggulan yang terdapat di daerah tertentu. Kreativitas seorang guru sangat mempengaruhi kualitas dan variasi stimulus yang digunakan dalam penulisan soal HOTS.

Karakteristik Soal HOTS

Soal-soal HOTS sangat direkomendasikan untuk digunakan pada berbagai bentuk penilaian kelas. Untuk menginspirasi guru menyusun soal-soal HOTS di tingkat satuan pendidikan, berikut ini dipaparkan karakteristik soal-soal HOTS.

1. Mengukur kemampuan berpikir tingkat tinggi
The Australian Council for Educational Research (ACER) menyatakan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan proses: menganalisis, merefleksi, memberikan argumen (alasan), menerapkan konsep pada situasi berbeda, menyusun, menciptakan. Kemampuan berpikir tingkat tinggi bukanlah kemampuan untuk mengingat, mengetahui, atau mengulang.Dengan demikian, jawaban soal-soal HOTS tidak tersurat secara eksplisit dalam stimulus.
Kemampuan berpikir tingkat tinggi termasuk kemampuan untuk memecahkan masalah (problem solving), keterampilan berpikir kritis (critical thinking), berpikir kreatif (creative thinking), kemampuan berargumen (reasoning), dan kemampuan mengambil keputusan (decision making).Kemampuan berpikir tingkat tinggi merupakan salah satu kompetensi penting dalam dunia modern, sehingga wajib dimiliki oleh setiap peserta didik.
Kreativitas menyelesaikan permasalahan dalam HOTS, terdiri atas:
a. kemampuan menyelesaikan permasalahan yang tidak familiar;
b. kemampuan mengevaluasi strategi yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dari berbagai sudut pandang yang berbeda;
c. menemukan model-model penyelesaian baru yang berbeda dengan cara-cara sebelumnya.
‘Difficulty’ is NOT same as higher order thinking. Tingkat kesukaran dalam butir soal tidak sama dengan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Sebagai contoh, untuk mengetahui arti sebuah kata yang tidak umum (uncommon word) mungkin memiliki tingkat kesukaran yang sangat tinggi, tetapi kemampuan untuk menjawab permasalahan tersebut tidak termasuk higher order thinking skills.Dengan demikian, soal-soal HOTS belum tentu soal-soal yang memiliki tingkat kesukaran yang tinggi.
Kemampuan berpikir tingkat tinggi dapat dilatih dalam proses pembelajaran di kelas. Oleh karena itu agar peserta didik memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi, maka proses pembelajarannya juga memberikan ruang kepada peserta didik untuk menemukan konsep pengetahuan berbasis aktivitas. Aktivitas dalam pembelajaran dapat mendorong peserta didik untuk membangun kreativitas dan berpikir kritis.

2. Berbasis permasalahan kontekstual
Soal-soal HOTS merupakan asesmen yang berbasis situasi nyata dalam kehidupan sehari-hari, dimana peserta didik diharapkan dapat menerapkan konsep-konsep pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan masalah.Permasalahan kontekstual yang dihadapi oleh masyarakat dunia saat ini terkait dengan lingkungan hidup, kesehatan, kebumian dan ruang angkasa, serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam berbagai aspek kehidupan.Dalam pengertian tersebut termasuk pula bagaimana keterampilan peserta didik untuk menghubungkan (relate), menginterpretasikan (interprete), menerapkan (apply)dan mengintegrasikan(integrate) ilmu pengetahuan dalam pembelajaran di kelas untuk menyelesaikan permasalahan dalam konteks nyata.
Berikut ini diuraikan lima karakteristik asesmen kontekstual, yang disingkat REACT.
a. Relating, asesmen terkait langsung dengan konteks pengalaman kehidupan nyata.
b. Experiencing, asesmen yang ditekankan kepada penggalian (exploration), penemuan (discovery), dan penciptaan (creation).
c. Applying, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk menerapkan ilmu pengetahuan yang diperoleh di dalam kelas untuk menyelesaikan masalah-masalah nyata.
d. Communicating, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk mampu mengomunikasikan kesimpulan model pada kesimpulan konteks masalah.
e. Transfering, asesmen yang menuntut kemampuan peserta didik untuk mentransformasi konsep-konsep pengetahuan dalam kelas ke dalam situasi atau konteks baru.
Ciri-ciri asesmen kontekstual yang berbasis pada asesmen autentik, adalah sebagai berikut:
a. Peserta didik mengonstruksi responnya sendiri, bukan sekadar memilih jawaban yang tersedia;
b. Tugas-tugas merupakan tantangan yang dihadapkan dalam dunia nyata;
c. Tugas-tugas yang diberikan tidak hanya memiliki satu jawaban tertentu yang benar, tetapi memungkinkan banyak jawaban benar atau semua jawaban benar.
Berikut disajikan perbandingan asesmen tradisional dan asesmen kontekstual.

Langkah-Langkah Penyusunan Soal HOTS

Untuk menulis butir soal HOTS, penulis soal dituntut untuk dapat menentukan perilaku yang hendak diukur dan merumuskan materi yang akan dijadikan dasar pertanyaan (stimulus) dalam konteks tertentu sesuai dengan perilaku yang diharapkan. Selain itu uraian materi yang akan ditanyakan (yang menuntut penalaran tinggi) tidak selalu tersedia di dalam buku pelajaran. Oleh karena itu dalam penulisan soal HOTS, dibutuhkan penguasaan materi ajar, keterampilan dalam menulis soal (kontruksi soal), dan kreativitas guru dalam memilih stimulus soal sesuai dengan situasi dan kondisi daerah di sekitar satuan pendidikan. Berikut dipaparkan langkah-langkah penyusunan soal-soal HOTS.

1. Menganalisis KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS
Langkah pertama guru-guru memilih KD yang dapat dibuatkan soal-soal HOTS. Tidak semua KD dapat dibuat model-model soal HOTS. Pemilihan KD jangan hanya melihat KKO pada KD tersebut,karena KKO pada KD hanya merupakan tuntutan awal yang harus diperkaya dengan subtansi-subtansi..
2. Menyusun kisi-kisi soal
Kisi-kisi penulisan soal-soal HOTS bertujuan untuk membantu para guru dalam menulis butir soal HOTS. Secara umum, kisi-kisi tersebut diperlukan untuk memandu guru dalam: (a) memilih KD yang dapat dibuat soal-soal HOTS, (b) memilih materi pokok yang terkait dengan KD yang akan diuji, (c) merumuskan indikator soal, dan (d) menentukan level kognitif.
3. Memilih stimulus yang menarik dan kontekstual
Stimulus yang digunakan hendaknya menarik, artinya mendorong peserta didik untuk membaca stimulus.Stimulus yang menarik umumnya baru, belum pernah dibaca oleh peserta didik.Sedangkan stimulus kontekstual berarti stimulus yang sesuai dengan kenyataan dalam kehidupan sehari-hari, menarikdan mendorong peserta didik untuk membaca.Dalam konteks Ujian Sekolah, guru dapat memilih stimulus dari lingkungan sekolah atau daerah setempat.
4. Menulis butir pertanyaan sesuai dengan kisi-kisi soal
Butir-butir pertanyaan ditulis sesuai dengan kaidah penulisan butir soal HOTS.Kaidah penulisan butir soal HOTS, agak berbeda dengan kaidah penulisan butir soal pada umumnya. Perbedaannya terletak pada aspek materi, sedangkan pada aspek konstruksi dan bahasa relatif sama. Setiap butir soal ditulis pada kartu soal, sesuai format terlampir.
5. Membuat pedoman penskoran (rubrik) atau kunci jawaban
Setiap butir soal HOTS yang ditulis hendaknya dilengkapi dengan pedoman penskoran atau kunci jawaban. Pedoman penskoran dibuat untuk bentuk soal uraian.Sedangkan kunci jawaban dibuat untuk bentuk soal pilihan ganda, pilihan ganda kompleks (benar/salah, ya/tidak), dan isian singkat.

Adapun alur proses penyusunan soal HOTS seperti berikut:

 

Sumber: Panduan Penyusunan Soal HOTS, Dit, PSMA Kemendikbud

PENYELENGGARAAN PEMINATAN SMA

Posted: Oktober 19, 2015 in Pendidikan

WP_20141228_033Pengertian Peminatan

Peminatan adalah program kurikuler yang disediakan untuk mengakomodasi pilihan minat, bakat dan/atau kemampuan peserta didik dengan orientasi pemusatan, perluasan, dan/atau pendalaman mata pelajaran dan/atau muatan kejuruan.  Peminatan Akademik adalah program kurikuler yang disediakan untuk mengakomodasi pilihan minat, bakat dan/atau kemampuan akademik peserta didik dengan orientasi penguasan kelompok mata pelajaran keilmuan.  Peminatan pada SMA/MA memiliki tujuan untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik mengembangkan kompetensi sikap, kompetensi pengetahuan, dan kompetensi keterampilan peserta didik sesuai dengan minat, bakat dan/atau kemampuan akademik dalam sekelompok mata pelajaran keilmuan.

STRUKTUR KURIKULUM

STRUKTUR KURIKULUM LANJUTAN

Pengertian Lintas Minat

Lintas Minat adalah program kurikuler yang disediakan untuk mengakomodasi perluasan pilihan minat, bakat dan/atau kemampuan akademik peserta didik dengan orientasi penguasaan kelompok mata pelajaran keilmuan di luar pilihan minat. Dalam Kurikulum 2013, selain memilih mata pelajaran dalam suatu peminatan tertentu, peserta didik juga diberi kesempatan untuk mengambil mata pelajaran dari peminatan lain. Hal ini memberi peluang kepada peserta didik untuk mempelajari mata pelajaran yang diminati namun tidak terdapat pada kelompok mata pelajaran peminatan.

Pengertian Pendalaman Minat

Pendalaman Minat adalah program kurikuler yang disediakan untuk mengakomodasi pendalaman pilihan minat akademik peserta didik dengan orientasi pendalaman kelompok mata pelajaran keilmuan dalam lingkup pilihan minat. Peserta didik yang memiliki kemampuan akademik di atas peserta didik lain diberi kesempatan untuk mendalami mata pelajaran-mata pelajaran pada kelompok peminatannya. Hal ini memberi kesempatan bagi peserta didik yang pada mata pelajaran tertentu di kelompok peminatannya memiliki kemampuan dan prestasi tinggi sehingga penguasaan terhadap substansi mata pelajaran bersangkutan menjadi tumpuan bagi kelangsungan pendidikan pada jenjang yang lebih tinggi.

Peserta didik dapat mengambil pendalaman minat dengan ketentuan:

a. memiliki indeks prestasi paling rendah 3,66;  dan

b. memiliki kecerdasan istimewa, dengan dibuktikan tes IQ paling rendah 130.

Pendalaman minat diselenggarakan oleh satuan pendidikan melalui kerjasama dengan perguruan tinggi yang memiliki bidang keilmuan yang sesuai.

Mekanisme Pemilihan Peminatan
Kelompok Peminatan yang dapat dipilih peserta didik terdiri atas kelompok Matematika dan Ilmu Pen
getahuan ADSC_0040lam, Ilmu Pengetahuan Sosial, serta Budaya dan Bahasa.

Mekanisme pemilihan peminatan bagi peserta didik baru di kelas X dapat dilakukan dengan dua cara:

  1. Sejak peserta didik mendaftar ke SMA/MA.
  2. Setelah peserta didik diterima di SMA/MA.

Sesuai dengan minat, bakat, dan/atau kemampuan akademik peserta didik dengan mempertimbangkan:

  1. Nilai Raport SMP/MTs atau yang sederajat;
  2. Nilai Ujian Nasional SMP/MTs atau yang sederajat; dan
  3. Rekomendasi guru bimbingan dan konseling/konselor di SMP/MTs atau yang sederajat.

Jika diperlukan sekolah dapat melaksanakan seleksi dengan menambahkan hal-hal sebagai berikut:

  1. Wawancara peserta didik dan/atau orangtua;
  2. Tes penempatan (placemnt test);
  3. Tes bakat dan minat oleh psikolog atau psikotes.

Pindah Kelompok Peminatan

Peserta didik dapat pindah antar kelompok peminatan akademik paling lambat pada akhir semester 1 (satu) berdasarkan hasil pembelajaran  pada semester  berjalan dan rekomendasi guru Bimbingan dan Konseling/Konselor. Apabila hal ini menimbulkan kesulitan dalam pelaksanaannya maka pindah peminatan dimungkinkan dilakukan setelah ulangan tengah semester 1. Ketentuan ini dituangkan dalam kurikulum dan  aturan akademik satuan pendidikan. Peserta didik yang pindah kelompok peminatan akademik harus mengikuti program matrikulasi.

Penyelenggaraan Peminatan

Permendikbud No.64 tahun 2014 pasal 3 ayat (6) mengamanatkan bahwa SMA wajib menyelenggarakan ketiga kelompok peminatan akademik.  Adapun sekolah yang wajib menyelenggarakan ketiga kelompok peminatan akademik memiliki kriteria sebagai berikut. 1. Adanya peserta didik yang memilih ketiga kelompok peminatan;

  1. Tersedia sumber daya pendidik dan tenaga kependidikan;
  2. Tersedia sarana prasarana pendukung terselenggaranya ketiga kelompok peminatan.

Peran dan Fungsi Bimbingan dan Konseling

Layanan Bimbingan dan Konseling memiliki tujuan membantu konseli mencapai perkembangan optimal dan kemandirian secara utuh dalam aspek pribadi, belajar, sosial, dan karir. Fokus pengembangan layanan peminatan peserta didik diarahkan pada kegiatan meliputi;

  1. pemberian informasi program peminatan;
  2. melakukan pemetaan dan penetapan peminatan peserta didik (pengumpulan data, analisis data, interpretasi hasil analisis data dan penetapan peminatan peserta didik);
  3. layanan lintas minat;
  4. layanan pendalaman minat;
  5. layanan pindah minat;
  6. pendampingan dilakukan melalui bimbingan klasikal, bimbingan kelompok, konseling individual, konseling kelompok, dan konsultasi;
  7. pengembangan dan penyaluran; dan
  8. evaluasi dan tindak lanjut.

Peran Bimbingan dan Konseling dalam penentuan peminatan dan lintas minat sebagai berikut.

  1. Merancang angket peminatan.
  2. Mengidentifikasi dan mendokumentasikan data-data calon peserta didik.
  3. Melaksanakan wawancara dengan peserta didik dan orangtua/wali peserta didik.
  4. Menempatkan peserta didik (bersama–sama dengan wakil kepala sekolah bidang kurikulum) sesuai minat dan bakat dengan kondisi sekolah.

Adapun alokasi waktu layanan Bimbingan dan Konseling untuk peminatan dan perencanaan individual seperti pada tabel 5 di bawah ini.

tabel layanan BP

Fungsi Bimbingan dan Konseling diantaranya membangun adaptasi pendidik dan tenaga kependidikan terhadap program dan aktivitas pendidikan sesuai dengan latar belakang pendidikan, bakat, minat, kemampuan, kecepatan belajar, dan kebutuhan peserta didik.

Sumber : berbagai sumber

masa mudakuSetelah beroperasi sekitar enam bulan di Indonesia, startup penyedia layanan e-learning gratis yang berpusat di London Quipper School menyatakan separuh dari satu juta penggunanya adalah siswa Indonesia. Tahun ini mereka menargetkan memiliki tiga juta pengguna dari Indonesia saja.

Menurut Public Relation Quipper Indonesia Petra Monica, Quipper memang sedang memfokuskan layanannya di Asia Tenggara. Layanan ini sebelumnya memperoleh suntikan pendanaan $5,8 juta dari sejumlah investor, yang digunakan untuk melebarkan sayap di berbagai negara Asia Tenggara, terutama Indonesia.

Keputusan ini membuahkan hasil. Saat ini Quipper punya satu juta siswa, setengah jutanya berasal dari Indonesia, diikuti oleh Filipina, Thailand, dan negara-negara lain. Petra menyatakan, faktor utama tumbuhnya teknologi pendidikan seperti ini adalah tingginya kepedulian tiap negara terhadap dunia pendidikan. Ia berujar, “Dari pengalaman kami berinteraksi dengan guru dan siswa secara langsung, kami berhasil menyimpulkan beberapa faktor pendukung lain atas kesuksesan ini. Tidak hanya menyadari peran teknologi digital, namun kini para guru berdedikasi tinggi di Indonesia juga berpartisipasi langsung untuk meningkatkan kualitas pendidikan siswa dengan teknologi tersebut.”

Untuk layanan seperti Quipper School ini, peran guru maupun siswa sama-sama sangat penting. “Peran guru dalam proses belajar siswa sangatlah besar, terutama di sekolah. Sedangkan siswa selalu tertarik dengan hal-hal baru, terutama dengan teknologi terkini. Korelasi antara dukungan dari guru yang bertemu dengan rasa ingin tahu siswa, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi kedua belah pihak bersama Quipper School,” ungkap Petra.Saat ini para pemangku pendidikan memang sudah semakin terbuka untuk memanfaatkan teknologi mobile dan internet sebagai salah satu alat penunjang pendidikan.

Meskipun Quipper School telah digunakan oleh lebih dari satu juta siswa, tetapi bukan berarti sudah bisa beroperasi tanpa kendala. Petra mengatakan, “Kendala untuk mendapatkan koneksi internet masih terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Mengingat antusiasme siswa dan guru yang cukup tinggi, biasanya hal ini diatasi dengan berbagi koneksi internet, saling meminjamkan perangkat, hingga mengerjakan tugas di warnet,”
“Kini, terdapat ratusan ribu siswa tersebar di Indonesia yang sedang asyik belajar menggunakan perangkat mereka masing-masing baik di sekolah maupun di luar sekolah,” tambahnya.

Sukses ini tidak membuat Quipper School berpuas diri. Dalam jangka pendek, ambisi mereka adalah mendapatkan lima juta pengguna dan target mereka untuk Indonesia sebanyak tiga juta.
“Kami berencana untuk menawarkan konten dan fitur premium, dengan konten dan fitur dasar yang ada saat ini tetap selamanya gratis. Quipper ingin membantu sekaligus memberi kemudahan untuk menjawab rasa ingin tahu siswa di seluruh dunia, terutama di Indonesia,” tutup Petra.

https://dailysocial.net/post/quipper-school-sudah-raih-1-juta-siswa-setengahnya-adalah-dari-indonesia

MINARDI NUPTKSeiring pesatnya perkembangan informasi dan teknologi maka setiap orang akan sangat mudah mendapatkan informasi tentang budaya dan perubahannya dalam waktu yang sangat singkat. Tak terhalang oleh jarakdan waktu. Generasi muda merupakan pengguna IT yang sangat besar, akibatnya merekalah yang sangat rentan akan perubahan. Tidak menjadi masalah ketika perubahan yang positif, tetapi jika negatif, ini akan membahayakan bangsa.

Untuk itu pembentukan karakter generasi muda, mutlak diperlukan. Siswa SMA merupakan bagian dari generasi muda juga tak luput dari upaya pembentukan karakter. Apalagi telah jamak kita jumpai perilaku pelajar yang gemar tawuran, tidak semangan belajar, susah memperhatikan ketika orang lain bicara, cenderung ngobrol sendiri, Maka guru sebagai sebagai pendidik harus berada paling depan terhadap pembentukan karakter generasi muda. Salah satu kiat yang dapat diterapkan di kelas adalah membuat kesepakatan dengan siswa yang harus ditaati oleh guru dan siswa. Kesepakatan tersebut ditandatangani oleh siswa, orangtua siswa dan guru. Setiap guru sebaiknya membuat kesepakatan dengan siswanya, sehingga semua guru kompak. Contoh kesepakata dengan siswa :

KESEPAKATAN KELAS X PROGRAM MATEMATIKA DAN ILMU-ILMU ALAM (MIA)
MATA PELAJARAN : FISIKA

Kesepakatan ini telah disusun dan disepakati antara kelas X MIA-2 dengan Guru mata pelajaran.

Kelas kami akan melaksanakan nilai-nilai agama dan kepercayaan melalui :
• Berdoa sesuai keyakinan masing-masing sebelum pelajaran dimulai.
• Menghormati keyakinan dan kepercayaan orang lain.
Kelas kami akan melaksanakan nilai-nilai kejujuran melalui :
• Mengerjakan secara sendiri-sendiri pada saat mengikuti evaluasi yang dilaksanakan oleh guru/sekolah.
• Tidak meminta bantuan orang lain untuk menyelesaikan soal-soal evaluasi yang sedang diikuti.
• Tidak memberikan bantuan kepada orang lain untuk menyelesaikan soal-soal evaluasi yang sedang berlangsung.
Kelas kami akan melaksanakan nilai-nilai kedisiplinan melalui :
• Masuk ruang kelas tepat waktu
• Mengumpulkan pekerjaan rumah/tugas tepat waktu
Kelas kami akan melaksanakan hubungan yang saling menghormati melalui :
• Mendengarkan setiap pembicaraan, hanya satu orang yang berbicara pada suatu waktu.
• Mengangkat tangan/mengacungkan tangan setiap mau bertanya/berpendapat. Tangan tidak diturunkan sampai guru mempersilakan bicara.
• Menghormati pendapat orang lain.
• Tidak melakukan tindakan penghinaan, berbicara kasar, berbicara kotor, dan meremehkan orang lain.
Kelas kami akan memperlihatkan rasa hormat dan empati terhadap semua warga sekolah melalui:
• Mendengarkan orang lain berbicara dan tidak mentertawakan pendapat orang lain.
• Menghormati setiap benda milik orang lain.
• Saling membantu satu sama lain.
Kelas kami akan menunjukkan komitmen menuju kemajuan dan keberhasilan akademik melalui:
• Memberikan segala sesuatu yang terbaik
• Melakukan kerja keras di dalam kelas
• Memberikan perhatian terhadap apa yang dikerjakan
• Mengikuti aturan kelas dan kebijakan guru
• Mengerjakan pekerjaan rumah/tugas dengan lengkap dan mengumpulkan tepat waktu.
Kelas kami akan memperhatikan baik terhadap diri sendiri maupun orang lain melalui:
• Saling menghormati satu sama lain dan mendengarkan apa yang dikatakan orang lain
• Bekerja secara hati-hati di laboratorium
• Menjaga volume suara agar tidak membuat kelas menjadi bising/gaduh
Siswa bertanggung jawab dalam menjaga keselamatan dan pertemanan dalam linkungan kerja melalui :
• Tidak melakukan tindakan yang menyinggung Suku, Agama, dan Ras (SARA) terhadap siapapun
• Bekerja secara hati-hati di dalam laboratorium
• Bertanggung jawab terhadap diri sendiri, pekerjaan dan perlengkapan yang digunakan
Guru bertanggung jawab terhadap keselamatan dan lingkungankerjanya melalui:
• Memberikan bantuan kapan dan dimanapun diperlukan
• Memastikan bahwa siswa mengikuti aturan keselamatan di laboratorium
• Mendengarkan pendapat/pertanyaan siswa
• Mengikuti aturan kelas untuk pendisiplinan siswa yang melakukan kesalahan

Jika terjadi pelanggaran kesepakatan maka :
• Peringatan pertama
• Peringatan kedua :
 Tempat duduk dipindahkan
• Peringatan ketiga :
 Siswa dukuk/belajar di luar kelas sampai pelajaran usai
• Peringatan terakhir:
• Orang tua siswa dihubungi
• Dibicarakan tentang kemungkinan pindah sekolah.

Bekasi,___ Agustus 2014
Menyetujui                                                                                                                 Guru Mata Pelajaran

_____________                                                                                                         M I N A R D I

Nama Siswa

________________
Nama Ortu/ Wali murid

Ternyata Daging Kanguru Lezat

Posted: Juni 30, 2014 in Pendidikan

kanguruTak disadari dua minggu sudah aku di Adelaide Australia. Sebuah kota yang terletak di teluk Australia. Kota ini berhadapan langsung dengan samudera Hindia. Walau menghadap ke samudera hindia namun ombaknya tak terlalu besar, namun demikian anginya cukup kencang sehingga di musim dingin kali ini udara dingin terasa menusuk tulang, tangan seperti habis memegang es batu padahal suhu terendah yang pernah ku alami adalah 8 derajad celcius namun suhu dirasa mendekati 6 derajat. Namun demikian Adelaide adalah sebuah kota yang menyenangkan, tak ada kemacetan, tak ada kebisingan, tak ada sampah dan masih banyak lagi jika harus diceritakan.

Di antara derap langkah kaki menyusuri pedestrian yang sangat luas, terbersit sebuah pikiran apa yang harus dinikmati di negeri koala ini. Yups….kanguru!!! Australia adalah negara asal usul kanguru. Bagaimana jika makan daging kanguru? akupun akhirnya bertanya-tanya apakah daging kanguru boleh dimakan atau tidak. Ternyata daging kanguru dijual bebas di pasar. Kanguru boleh dikonsumsi di sini, karena memang ada peternakannya, seperti kembing kalau di Indonesia.

Keesokan harinya, kebetulah kegiatan di kampus Universitas Adelaide, selesai pukul 2 sore. Aku dan teman serumah langsung meluncur ke sebuah pasar tradisional di kota Adelaide. Setiap lorong kulalui sambil mengamati setiap toko penjual daging, namun apa daya daging yang kucari gak ketemu juga. Tanpa putus asa setiap lorong ku ulangi lagi, dan hasilnya tetap tak ketemu. Ide Indonesiku-pun muncul. Kebetulan aku lihat sebuah toko sayr dan bumbu asia, penjaganya pun berwajah asia, kayaknya tionghoa. Kuamati setiap sayur dan bumbu yang di jual, jahe 15 dolar/kg, kunyit 17 dolar/kg, kangkung, daun bawang, cabe rawit semua ada dan mahal. Namun aku tertarik dengan bawang putih hanya 2 dolar sekantong (kayaknya 0,5 kg). Dan akhirnya akupun beli bawang putih, bawang bombai, cabe rawit dan ubi jalar. Setelah semua kubayar, dengan kemampuan bahasa inggris yang pas-pasan akupun bertanya di manakah yang jual daging kanguru. Si pelayan tokopun dengan senang hati memberi tahu dengan jelas, yessss kamipun menuju ke sana. Yupssss ternyata yang dijual hanya daging kanguru dengan berbagai versi, ada yang daging segar, ada yang sudah dipotong kecil-kecil, ada pula yang sudah berbumbu. Namun harganya berbeda-beda. Pilihan kujatuhkan pada daging segar, maklum harganya paling murah 6,90 dolar per kilo, dan satu kilogram kupesan.

Dengan rasa bahagia akhirnya pulang dengan kereta api dari stasiun kota Adelaide. Perjalanan ditempuh kurang lebih satu jam, dan sekitar jam lima sore sudah sampai rumah. Tak ada siapa-siapa di rumah, Peter dan Komang juga belum pulang. Daging pun segera di iris-iris untuk dimasak. Sempat terbersit keraguan, jangan-jangan nanti rasanya nggak enak. Kucoba mengingat bumbu apa yang cocok untuk daging ini. Belum selesai aku memotong-motong daging, Komang pulang. Akupun lebih mudah untuk meminta bumbu-bumbu yang diperlukan. Aku ingat kata Peter bahwa daging kanguru kalo dimasak terlalu lama jadi keras.

Setelah semua bumbu siap, segera daging dimasak. Untuk menghilangkan bau amis, daging dibaluri dengan jeruk nipis, dan direbus dengan jahe. Rebus sekitar sepuluh menit, angkat dan tiriskan. Setelah itu semua bumbu yang telah dirajang, digoreng hingga layu, masukkan daging, tambah dengan garam, mrica dan kecap. Tak sampai sepuluh menit diangkat dan siap di santap, lezzzaaatttt. Kedua HFku, Peter dan Komang, juga mengatakan yang sama Lezaaaattt, apa lagipak agus house mateku, maknyussss. Dagingnya empuk tak kalah sama daging kambing.

20140627_172210 WP_20140627_059

WP_20140624_029Hari ini cuaca tampak lebih baik dari pada hari senin kemarin, menurut ramalan badan meteorologi Australia Selatan angin akan berhembus dengan kecepatan 24 km/jam dan suhu terendah 12oC. Hal ini membuat kami gembira, karena kami sudah mulai terbiasa dengan suhu sekitar itu. Mobil melaju dari rumah pukul 7.55 pagi. Perjalanan sangat lancar tanpa gangguan gerimis. Walau awan tampak menggantung namun hujan juga tak kunjung tiba. Ini merupakan keberuntungan kami.

Pukul 8.20 pagi kami sudah tiba di sekolah, dan setelah menandatangani daftar hadir langsung menuju ruang kerja, ternyata kami yang terakhir. Tepat pukul 8.30 bel dibunyikan pertanda kegiatan sekolah segera dimulai. Kali ini saya tidak langsung masuk kelas karena jadwal masuk kelas adalah jam ke 3. Waktu bebas ini saya gunakan untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan. Sebelum bel jam ke-3 dibunyikan saya sudah berada di depan ruang laboratorium fisika di mana Mrs Cheril mengajar. Sengaja saya lakukan agar begitu bel berbunyi saya langsung masuk ruang kelas, jadi on time.

Pada jam ke-3 ini yang masuk adalah siswa kelas 11 untuk mata pelajaran fisika. Kegiatan pembelajaran yag dilakukan pada intinya adalah pembahasan soal-soal ujian akhir semester ganjil. Perlu diketahui bahwa di Austrlian tahun ajaran baru dimulai bulan Januari dan di akhiri bulan Juni. Saat ini adalah awal semester genap.

Untuk jam ke-4 dan Ke-5, siswa yang masuk kelas adalah kelas IX dengan mata pelajaran Science. Pada pembelajaran kali ini cukup menarik. Metode pembelajaran yang digunakan, dimulai dari ceramah, tanay jawab dan experimen. Satu jam pertama untuk membahas tentang The Dynamic Eart, dan satu jam berikutnya experimen. Setelah satu jam mengajar dengan ceramah dan tanya jawab, maka siswa diajak memasuki laboratorium yang satunya lagi. Ruang yang satu ini juga merupakan laboratorium science.

Praktikum yang dilakukan adalah perpindahan kalor secara konveksi. Siswa diberikan Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk melakukan praktikum. Dalam LKS tersebut dijelaskan prosedur praktikum dan tugas yang harus diselesaikan siswa. Petunjuk praktikum diawali dengan demonstrasi oleh guru, siswa memperhatikan dan diperkenankan bertanya jika belum jelas. Selanjutnya siswa diberi waktu 20 (dua puluh) menit untuk melakukan praktikum. Yang dilakukan adalah mengamati perpindahan kalor secara konveksi, yaitu kedalam air di masukkan sedikit potasium permanganat melalui selang kecil sehingga zat tersebut sampai dasar. Setelah air dipanaskan, siswa mengamati apa yang terjadi.

Untuk praktikum kedua adalah ke dalam bejana berisi air pada suhu ruang, dimasukkan es balok berwarna biru. Siswa melakukan pengamatan yang terjadi, dan mencatat hasilnya.

Setelah waktu selesai maka seluruh siswa dipersilakan untuk merapikan alat dan mengembalikan ke meja demonstrasi (meja guru) dengan tertib. Dan bersama-sama menyimpulkan pengertian perpindahan kalor secara konveksi.

Hal menarik yang perlu dicatat adalah guru sangat baik dalam mengelola kelas sehingga dapat menyelesaikan materi dengan pendekatan/metode pembelajaran yang bervariasi sehingga siswa senang dan tidak membosankan, bahkan pembelajaran ini tidak menunjukakan bahwa fisika itu menakutkan melainkkan menyenangkan.

Cross Cultural Activities

Posted: Juni 21, 2014 in Pendidikan

DSC_0373Kegiatan hari ke sepuluh di Australia adalah Cross Cultural Activities. Pada hari ini kami sekeluarga (guru dan HF) menghadiri acara seorang anak keturunan Indonesia-Australia di daerah Adelaide. Kami berangkat sekitar pukul sepuluh waktu setempat. Kami tidak langsung ke tujuan melainkan singgah di beberapa tempat pertokoan second hand. Kami tidak belanja hanya HF yang beli sebuah termos kecil. Perjalanan dilanjutkan ke rumah Sarah, ibu dari anak yang lagi ulang tahun. Suasana masih sepi, kami bertiga (saya, pak Agus, dan Peter) langsung putar balik menuju Pantai Glenelg.

Pantai Glenelg tampak sangat rapi. Beberapa Apartemen berjajar tinggi berdiri dipinggiran Glenelg Marina. Sederatan kapal pesiar berjajar di dermaga. Saat itu pantai tidak begitu ramai walaupun week end. Hal ini dikarenakan musim dingan. Berbeda dengan musim panas, maka pantai sangat ramai didikunjungi warga, untuk sekadar mandi di laut agar menjadi segar.

Pukul 13.15 kami pergi dari pantai, dan pulang menuju rumah Sarah untuk makan siang. Lima belas menik kemudian kami sampai, dan suana sudah ramai. Banyakkeluarga Indonesia-Australia yang kumpul di sana. Mereka datang bersamaanak-anak mereka. Kami semua tampak akrab satu sama lain. Berbagai hidangan khas Indonesia disajikan, Syomai, bubur ayam, sate ayam, rendang, nasi kuning dan berbagai kue khas Indonesia. Kami sebagai pendatang baru di Adelaide juga tidak merasa canggung walau harus berbincang dengan warga Australia. Mereka sangat ramah dan sopan. Dan kami pulang sekitar pukul 5 petang.

DSC_0411

 

 

 

 

 

 

 

Adelaide Hari Kedua

Posted: Juni 16, 2014 in Pendidikan

at Adelaide University, SAHari kedua di Adelaide, South Australia, merupakah hari yang ditunggu-tunggu bagi para peserta Pelatihan Guru SMA. Senin, 16 Juni 2014 adalah awal dari seluruh kegiatan. Hari ini seluruh kegiatan dilakukan di Universitas Adelaide, salah satu kampus terbesar yang ada di Australia Selatan. Kegiatan dimulai pukul 9.00 pagi waktu jam logam, bukam jam karet. Dari 85 peserta, tak satupun yang terlambat, padahal tak sedikit yang tempat tinggalnya sangat jauh dari kampus tersebut. Saya sendiri harus menggunakan kereta api selama satu jam untuk menuju stasiun terskhir yang dekat dengan kampus. Itupun harus diawali dengan jalan kaki selama kurang lebih 20 menit menuju stasiun Seaford. Jarak rumah dengan stasiun Seaford sekitar 3 km. Sedangkan jarak stasiun terakhir dengan kampus sekitar satu kilometer, jadi jalan kaki kurang lebih 10 menit.

Kegiatan hari pertama di kampus tersebut di awali dengan Orientation and Program Overview. Pada materi ini dijelaskan beberapa hal yang berkaitan dengan pengenalan program, tujuan kegiatan sehingga peserta siap untuk berinteraksi dengan masyarakat setempat (Adelaide people) termasuk dengan adat dan kebudayaan yang berbeda. Selain itu disampaikan juga transportasi di Adelaide dan menyikapi bagaimana jika tersesat. Akhir dari sesi ini dicapainya kesepakatan tentang aturan-aturan demi lancarnya program, misalnya datang tepat waktu (termasuk setelah istirahat), hand phone harus dimatikan, dan lainsebagainya. Materi disampaikan oleh Tomy Bawulang dan Rini Budiyanti. 

Materi Introduction to Action Planning Professional Development Planing disampaikan oleh Madalena Bendo dan Tomy Bawulang. Pada materi ini dibahas tentang menjadi seorang peneliti, sehingga ketika mengunjungi sekolah akan lebih siap dan memiliki ide atau gagasan untuk mempelajari dan meneliti secara fokus dan terarah  sehingga menghasilkan secara maksimal. Peserta diharapkan mampu membuat perencanaan kegiatan untuk pengembangan potensi diri dan mampu berinteraksi dengan “peer mentor” di sekolah tujuan.

Materi berikutnya adalah Appreciative Inquiry yang disampaikan oleh Tomy Bawulang. Appresiative Inquiry adalah sebuah pendekatan yang baru terhadap perubahan. Secara teoritis Appeciative Inquiry berasal dari Strength Base Aproach yang memfokuskan pada aspek-aspek yang positif dari sebuah fenomena, objek, ataupun kejadian dan peristiwa. Pendekatan berfokus hal yang positif bukan yang negatif. Berfokus pada kelebihan bukan pada kekurangan. Berfokus pada kekuatan bukan pada kelemahan. Jadi peserta dalam melakukan penelitian akan berfokus pada kelebihan-kelebihan yang dimiliki oleh sekolah-sekolah yang dikunjungi, yang pada akhirnya dapat diadaptasi dan diimplemetasikan di sekolah-sekolah peserta di Indonesia.

Metacognition and Self-Evaluation: “Six Thinking Hats” merupakan materi berikutnya yang disampaikan oleh Sri Gustiani. Pada materi ini dijelaskan aspek metakognisi yang difokuskan pada Six Thingking Hats, yang merupakan kerangka berfikir praktis dalam mengevaluasi capaian diri sendiri dalam proses pembelajarn. Kombinasi landasan teoritis dan kerangka berfikir praktis ini diharapkan peserta dapat mengevaluasi capaian pembelajaran selama mengikuti program pelatihan.