Belajar dan Model Pembelajaran Fisika

Posted: Agustus 5, 2010 in Pendidikan

Belajar

Belajar adalah proses membuat pengertian melalui pengalaman, terjadinya interaksi fikiran, perasaan dan tindakan. Keterampilan mengajar bagi guru hendaknya tampak dalam tindakan mengajar sains, strategi dan metodologinya. Teori belajar dikelompokkan menjadi dua pandangan yaitu Behaviorism dan Constructivism

Pandangan Behaviorism

Pavlov (behaviorist) menyatakan bahwa belajar merupakan perubahan perilaku yang dapat diamati dan melibatkan terbentuknya hubungan-hubungan tertentu antara satu seri stimulus- stimulus dan respon-respon.

Seorang guru yang menganut aliran ini berkeinginan untuk merubah perilaku siswanya yang tampak secara signifikan Kaum behaviorist menyatakan bahwa pengetahuan itu diperoleh dengan memanfaatkan dan menggunakan semua panca indera, yang berarti pembelajarannya mengutamakan keterampilan secara fisik

Belajar menurut kaum ini terjadi ikatan atau asosiasi antara peristiwa–peristiwa (stimulus) dengan tanggapan (respon) Terjadinya asosiasi antara stimulus dan respon dapat dalam bentuk latihan (law of exercise).dan akibat (low of effect) disini unsur terpenting adalah adanya penguatan (reinforcement).

Pandangan Constructivism

Pandangan Constructivism yang dikemukakan oleh Gagne, Ausubel dan  Bruner (Gestalt-field ) menyatakan bahwa belajar merupakan suatu proses perolehan atau perubahan wawasan (insight), pandangan (outlook), harapan atau pola pikir dan mendefinisikan bahwa belajar sebagai reorganisasi perseptual atau Cognitive-field untuk memperoleh pemahaman.

Seorang guru yang menganut teori ini berkeinginan untuk menolong siswanya mengubah pemahaman mereka tentang masalah-masalah dan situasi-situasi secara signifikan

Proses belajar dapat merubah struktur otak yang berjalan terus menerus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan keterampilan seseorang, sehingga perlulah difahami bahwa strategi belajar yang salah dan terus menerus dijalankan akan mempengaruhi struktur otak yang pada akhirnya akan mempengaruhi cara seseorang dalam berperilaku.

Pada proses pembelajaran kontruktivisme pengetahuan dibangun oleh individu sendiri sebagai interaksi dengan lingkungannya. Konstruktivis yang dikembangkan oleh Piaget, mempunyai pandangan bahwa seorang anak membangun pengetahuannya melalui berbagai jalan yaitu membaca, mendengar, bertanya, menelusuri dan melakukan eksperimen terhadap lingkungannya.

Tujuan pendekatan konstruktivis adalah menghasilkan individu yang memiliki kemampuan berfikir yang dikonstruksi sendiri melalui latihan pemecahan masalah, sehingga memiliki cara yang sesuai dengan dirinya. Guru berfungsi sebagai mediator dan fasilitator dalam proses mengkonstruksi pengetahuan untuk siswanya.

Kaum konstruktivis terbagi dalam:

(a) konstruktivisme kognitif atau personal

(b) konstruktivisme sosial

(c) konstruktivisme kritis

Piaget (konstruktivisme kognitif) berpandangan bahwa pengetahuan dibangun melalui mendengar, membaca, bertanya dan bereksperimen. Konstruktivis sosial mempunyai pandangan bahwa belajar dilakukan dengan cara berinteraksi dengan lingkungan sosial maupun fisik seseorang dengan demikian akan timbul konteks sosial budaya dengan lingkungannya, sehingga terbentuk sikap menemukan (discovery) bagi seseorang yang belajar

Konstruktivis kritis (Ausubel) berpandangan bahwa faktor yang paling penting dalam mempengruhi proses belajar adalah apa yang diketahui seseorang yang belajar. Ausubel lebih menekankan pada proses belajar bermakna yang berarti bahwa konsep atau informasi baru harus dikaitkan dengan konsep-konsep yang sudah ada di dalam struktur kognitif. Perlu dilakukan suatu usaha, agar objek belajar (siswa) mampu mengikuti penjelasan dari gurunya untuk suatu konsep yang baru berdasarkan pemahaman yang siswa miliki. Dalam proses belajar mengajar, guru bersikap sebagai mediator untuk menjembatani antara pengetahuan yang sudah dimiliki oleh siswa dengan pengetahuan yang hendak diperoleh siswa.

Pembelajaran untuk individu yang belajar dituntut menggunakan kedua pandangan tersebut.

Model Pembelajaran

Seorang guru dalam melaksanakan tugas profesionalnya harus memiliki keterampilan dan mendalami bentuk-bentuk model pembelajaran.

Model pembelajaran dapat didefinisikan sebagai suatu pola mengajar yang menerangkan proses, menyebutkan dan menghasilkan situasi lingkungan tertentu yang menyebabkan para siswa berinteraksi dengan cara terjadinya perubahan khusus pada tingkah laku mereka, dengan kata lain penciptaan suatu situasi lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar. Model-model pembelajaran dapat dikembangkan antara lain melalui perbedaan pendekatan dalam proses pembelajarannya sehingga diharapkan terjadi perubahan tingkah laku para siswa. Untuk maksud itulah dikembangkan bermacam-macam model pembelajaran untuk menolong guru dalam meningkatkan kemampuannya dalam mengelola pembelajarannya sehingga dapat menjangkau lebih banyak siswa dan untuk menciptakan lingkungan belajar yang lebih kaya dan lebih luas bagi mereka.

Ciri-ciri suatu Model Pembelajaran

Suatu model pembelajaran yang baik mempunyai ciri-ciri umum sebagai berikut:

  1. Memiliki Scientific procedure, maksudnya model pembelajaran harus memiliki suatu prosedur sistimatis untuk merubah tingkah laku para siswa.
  2. Memiliki perincian dari hasil belajar (specification of learning outcome), maksudnya semua model pembelajaran menyebutkan hasil-hasil belajar secara mendetail mengenai penampilan siswa (student performance).
  3. Menyebutkan lingkungan belajar (specification of environment), maksudnya setiap model pembelajaran menyebutkan secara pasti kondisi- kondisi lingkungan dimana respon para siswa diobservasi.
  4. Kriteria penampilan (criterion of performance) maksudnya suatu model pembelajaran menunjukkan kriteria penampilan yang diharapkan dari para siswa dan merencanakan tingkah laku yang diharapkan dari siswa yang dapat didemonstrasikannya setelah langkah-langkah pembelajaran tertentu.
  5. Cara-cara pelaksanaannya (specification of operations), maksudnya semua model pembelajaran menyebutkan mekanisme yang menunjukkan reaksi–reaksi siswa dan interaksinya dengan lingkungan.

Mengapa perlu dikembangkan model pembelajaran? Apakah fungsi dan peranannya?

Fungsi dan peran model pembelajaran:

Seperti sudah kita ketahui bahwa model pembelajaran bermaksud menolong para guru dalam proses belajar mengajar dan memegang peranan dalam beberapa hal yaitu:

–  Membimbing. Suatu model pembelajaran sangat berguna dalam menolong guru menentukan apa yang harus       dilakukannya dalam rangka pencapaian tujuan pembelajaran.

–  Mengembangkan kurikulum.  Suatu model pembelajaran menolong pengembangan kurikulum bagi kelas-kelas pada tingkat pendidikan yang berbeda.

–  Penentuan materi pelajaran.  Suatu model pembelajaran menyebutkan secara mendetail macam-macam jenis materi pengajaran yang akan digunakan oleh guru demi terjadinya perubahan-perubahan pada kepribadian para siswa.

–  Peningkatan dalam mengajar.  Suatu model menolong proses belajar mengajar dalam hal peningkatan efektifitas mengajar.

Syntax beberapa model pembelajaran:

Berikut ini dikemukakan bebrapa syntax model pembelajaran yang dapat kita gunakan dalam pembelajaran fisika.

1. Syntax Model Pembelajaran Penylidikan Berkelompok (Group

Investigation).

Fase satu: Menghadapi Masalah, dalam fase ini siswa dihadapkan pada suatu kondisi/peristiwa yang membuat siswa bertanya-tanya.

Fase dua: Reaksi, dalam fase ini siswa mendiskusikan dan menuliskan kemungkinan jawaban terhadap kejadian tersebut dalam kelompoknya.

Fase tiga: Formulasi, dalam fase ini siswa menentukan apa yang harus dipelajari oleh masing-masing anggota kelompok, peran setiap anggota kelompok.

Fase empat: Penyelidikan, di fase ini siswa secara berkelompok melakukan penelitian untuk membuktikan kebenaran jawabannya.

Fase lima: Analisis, dalam fase ini siswa siswa menganalisa dan melaporkan hasil penelitiannya.

Fase enam: Pengulangan kegiatan, siswa mengulangi kegiatan fase dua sampai lima jika menemukan persoalan/masalah baru.

2. Syntax Model Pembelajaran Berpikir Induktip

Strategi satu: Pembentukan Konsep

  • Fase satu: siswa menyebutkan dan menyusun daftar data.
  • Fase dua: siswa mengelompokan data.
  • Fase tiga: siswa memberi nama dan mengkategorikan/klasifikasi data.

Strategi dua: Interpretasi Data

  • Fase empat: siswa mengidentifikasi hubungan antar data yang diperolehnya.
  • Fase lima: siswa menyelidiki bagaimana hubungan itu.
  • Fase enam: siswa  membuat kesimpulan.

Strategi tiga: Aplikasi konsep/prinsip

  • Fase tujuh: siswa meramalkan konsekuensi, menjelaskan kejadian/fenomena yang tidak umum, berhipotesa.
  • Fase delapan: siswa menjelaskan atau mendukung prediksi dan hipotesa yang telah dibuatnya.
  • Fase sembilan: siswa membuktikan prediksinya.

3. Syntax Model pembelajaran Pelatihan Inquiry

Fase satu: Menghadapi Masalah

  • Guru memberikan masalah dan menerangkan langkah-langkah penyelidikan
  • Guru menyajikan fenomena yang memerlukan beberapa penjelasan/jawaban yang harus dicari oleh siswa.

Fase dua: Mengumpulkan data lewat verifikasi.

  • Siswa mengumpulkan data-data yang berhubungan dengan fenomena yang terjadi.
  • Siswa menghubungkan data-data tersebut dengan apa yang pernah mereka lihat atau alami.

Fase tiga: Mengumpulkan data lewat eksperimen (percobaan)

  • Siswa mencari dan menentukan variabel-variabel yang berhubungan dengan fenomena yang disajikan melalui percobaan.
  • Melalui percobaan, siswa berusaha membuktikan jawabannya/hipotesanya.

Fase empat: Mengolah data dan memformulasi penjelasan.

  • Siswa mengolah dan menganalisa data yang diperolehnya dan membentuk suatu penjelasan tentang fenomena/masalah  yang dialaminya di awal pembelajaran.

Fase lima: Analisa tentang proses penyelidikan.

  • Siswa mengemukakan kesulitan- kesulitan yang dialaminya selama melakukan penyelidikan dan mencari jalan keluar agar dapat melakukan kegiatan yang serupa lebih baik lagi.

4. Syntax Model Pembelajaran Simplified Problem Based Learning

Model yang disederhanakan ini adalah sebuah model yang langkah-langkah/fase-fase nya dapat diulang. Langkah dua sampai lima dapat diulang dan ditinjau kembali jika da informasi/pengetahuan baru sehingga memerlukan pendefinisian kembali masalah yang telah dipaparkan kepada siswa. Langkah ke enam dapat terjadi beberapa kali manakala guru memberi penekanan/penguatan pada apa yang dilakukan siswa sebelumnya.

Fase satu: Pemberian Masalah

  • Siswa mendapatkan masalah yang telah disusun oleh guru. Siswa tidak perlu mempunyai pengetahuan yang cukup untuk memecahkan masalah tersebut. Hal ini berarti siswa harus berkelompok untuk mencari /mempelajari informasi/pengetahuan atau ketrampilan baru untuk terlibat dalam proses pemecahan masalah.

Fase dua: Menuliskan Apa yang Diketahui

  • Siswa berkelompok menuliskan apa yang mereka ketahui dari permasalahan yang diberikan guru.

Fase tiga: Menuliskan Inti Permasalahan

  • Siswa menuliskan pernyataan tentang inti permasalahan/yang dipertanyakan dan harus muncul dari siswa.

Fase empat: Menuliskan cara pemecahan masalah

  • Siswa menuliskan beberapa cara untuk memecahkan masalah tersebut dan memutuskan mana yang terbaik.

Fase lima: Menuliskan tindakan/kerja yang akan dilakukan

  • Siswa menuliskan dan mengerjakan tindakan/kerja yang mereka lakukan untuk memcahkan masalah tersebut.

Fase enam: Melaporkan hasil kegiatan

  • Siswa melaporkan hasil kegiatannya kepada kelas yang meliputi proses yang dilakukan dan hasilnya.

Hakekat IPA (Fisika)

Fisika dapat dipandang sebagai sebuah produk, proses dan perubahan sikap. Jika dipandang sebagai sebuah produk maka yang kita lihat Fiska adalah sekumpulan fakta, konsep, hukum/prinsip, rumus dan  teori yang harus kita pelajari dan fahami. Fisika berisi fenomena, dugaan, hasil-hasil: pengamatan, pengukuran dan penelitian yang dipublikasikan, jika kita melihatnya sebagai sebuah proses. Jika dilihat sebagai suatu perubahan sikap, maka Fisika akan berisi rasa ingin tahu, kepedulian, tanggung jawab, kejujuran, keterbukaan dan kerjasama. Seseorang yang membelajarkan dirinya dan orang lain dalam bidang fisika, seharusnya tidak memilih salah satu dari pandangan tersebut. Ketiga pandangan tersebut harus dipilih sebagai satu kesatuan sehingga proses pembelajaran dapat menghasilkan siswa yang berkompetensi tinggi. Hasil yang baik dari suatu proses pembelajaran akan ditentukan oleh kesesuaian antara bahan ajar dengan model pembelajaran yang dipilih guru. Berikut ini kita lihat contoh silabus dalam KTSP:

Kompetensi Dasar Indikator Pengalaman belajar Penilaian
1.1 Mendeskripsikan besaran pokok dan besaran turunan beserta satuannya
  • Mengidentifikasi besaran-besaran fisika dalam kehidupan sehari-hari kemudian mengelompokkannya ke dalam besaran pokok dan turunan.
–   Menunjukkan beberapa besaran  yang biasa digunakan sehari-hari

–   Membedakan besaran-besaran tersebut sebagai besaran pokok dan besaran turunan

–   Mendiskusikan pengertian besaran pokok dan besaran turunan

Tes tertulis
  • Menggunakan satuan Internasional dalam pengukuran
–   Menunjukkan beberapa satuan yang biasa digunakan secara internasional

–   Menggunakan satuan internasional dalam melakukan pengukuran

Tes tertulis

Tes kinerja

  • Mengkonversi satuan panjang, massa dan waktu secara sederhana
–   Mendiskusikan cara mengkonversi satuan dari besaran yang sejenis

–   Menunjukkan konversi satuan dari suatu besaran yang sejenis

Tes tertulis

Setelah melihat indikator dan pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa, apakah kita masih melihat Fisika sebagai salah satu dari sebuah produk, proses atau perubahan sikap? Jika kita lihat contoh silabi di atas, terlihat jelas bahwa membelajarkan siswa dalam fisika berarti melatih mereka untuk mempunyai kemampuan yang baik dalam ranah-ranah kognitf, afektif dan psikomotor. Bagaimana kita menyiapkan kelas kita untuk mencapai hal ini ?

Pustaka:

Ausubel, D. (1963). The Psychology of Meaningful Verbal Learning. New York: Grune & Stratton.

Ausubel, D. (1978). In defense of advance organizers: A reply to the critics. Review of Educational Research, 48, 251-257.

Ausubel, D., Novak, J., & Hanesian, H. (1978). Educational Psychology: A Cognitive View (2nd Ed.). New York: Holt, Rinehart & Winston.

Dahar, R. W. (1989). Teori-teori Belajar. Jakarta: Erlangga.

Novak, J. D. & Gowin, D.B. (1985). Learning How to Learn. Cambrige: Cambridge University Press.

Joice,B. ,Weil, M., & Calhoun, E. (2000). Models of Teaching. Boston: Allyn and Bacon.

Komentar
  1. makasih infonya pak, sangat bermanfaat bagi diri saya pribadi ijin sedot yah pak, wslm

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s