Teori Belajar Behavioristik

Posted: Maret 29, 2011 in Pendidikan

Dalam pendidikan, masalah belajar merupakan yang paling pokok dan actual.Tetapi hanya sedikit orang yang mengetahui apa dan bagaimana proses belajar itu sendiri. Gagne (1978:1) mendefinisikan belajar sebagai berikut: “Learning si a change human disposition of capability which persist over a periode of time, and which is simply ascriable to process and growth”. Sedangkan Sumadi Suryabrata (1990:247) mengutip pendapat Harold Spears, yaitu : “Learning is to observe, to read, to imitate, to try something themselves, to listen, to follow direction”. Kedua pendapat tersebut pada prinsipnya belajar merupakan perubahan tingkah laku, dan perubahan ini dapat terjadi dari mengalami, observasi, membaca, meniru, mencoba memecahkan masalah, mendengarkan mengikuti secara langsung, dan sebagainya. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa belajar adalah suatu perubahan perilaku yang ditunjukksn oleh seseorang setelah ia berinteraksi dengan lingkungannya.

Berdasarkan uraian di atas jelaslah bahwa belajar meupakan suatu proses dan hasil dari belajar ini adalah perubahan tingkah laku dari individu yang belajar. Sedangkan bagaimana proses belajar itu berlangsung, masih berupa rumusan yang disusun atas dasar pemikiran spekulatif atau berdasarkan penemuan eksperimental yang disebut teori-teori belajar, tetapi pada dasarnya dapat dukelompaokkan menjadi dua kelompok yeitu teori-teori behavioristik dan teori-teori kognitif (Nurkancana, dkk., 1989: 36). Dalam bahasan berikut hanya akan dibahas teori kelompok yang pertama saja.

Teori behavioristik dilandasi oleh orientasi behavioristik yang memandang manusia sebagai organisme yang pasif. Yang dikuasai oleh stimulus-stimulus yang terdapat dalam lingkungan. Menurut pandangan teori ini manusia dapat dimanipulasi, yaitu tingkah lakunya dapat dikontrol dengan mengontrol stimulus-stimulus yang ada di lingkungannya. Hokum-hukum yang berlaku bagi manusia pada dasarnya adalah sama dengan hokum-hukum yang berlaku bagi gejala-gejala alam. Oleh karena itu metode ilmiah yang berlaku pada sain juga berlaku bagi manusia.

Ada banyak teori yang termasuk teori behavioristik, salah satunya teori Operant Conditioning dari Skinner. Melalui teori belajar ini, Skinner memandang tingkah laku sebagai hubungan antarastimulus/perangsang dan respons. Lebih jauh Skinner membedakan respons menjadi dua (Sumadi Suryabrata, 1990: 191) yaitu:

a.      Reseponden respon (refleksive response) yaitu respon yang ditimbulkan oleh perangsang-perangsang tertentu. Pada umumnya perangsang-perangsang tersebut mendahului respon, dan disebut eliciting stimuli.

b.      Operant respon ( instrumental response) yaitu respon yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh perangsang-perangsang tertentu. Jadi perangsang menikuti respond an perangsang ini disebut reinforcing stimuli.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s